Perlukah Melihat Tuhan?

16 Sep 2008

Mungkin pertanyaannya bukanlah perlukah? atau untuk apa?, melainkan mengapa seseorang ingin melihat Tuhan?. Ada banyak alasan. Diantaranya, jika Anda mencintai sesuatu atau seseorang, tentu Anda ingin melihat, berjumpa dan selalu berada di sisinya. Begitu juga dengan orang-orang Mumin, mereka sangat ingin berjumpa dengan Allah. Siapa yang ingin berjumpa dengan Allah, maka ia pasti berjumpa dengan Allah. Siapakah yang ingin berjumpa dengan Allah? Mereka yang dalam beribadah kepada-Nya tidak pernah menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun jua.

Mungkin ada yang bertanya: Bukankah keinginan melihat Allah merupakan keinginan untuk percaya? Dan jika tidak melihat Allah maka ia tidak mau percaya kepada Allah? Keinginan melihat tidak selamanya karena tidak percaya. Banyak contohnya dalam Al-Quran.

Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur? Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: Berapa lama kamu tinggal di sini? Ia menjawab: Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari. Allah berfirman: Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berobah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging. Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [QS. Al-Baqarah: 259]

Nabi Uzair tidak mungkin ragu akan kekuasaan Allah. Namun beliau berfikir, bagaimana kiranya gambaran kekuasaan Allah dalam menghidupkan sesuatu.

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati. Allah berfirman: Belum yakinkah kamu?. Ibrahim menjawab: Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku). [QS. Al-Baqarah: 260]

Dalam ayat di atas dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim meminta untuk diperlihatkan tentang kemampuan Allah dalam menghidupkan orang mati. Allah Mahatahu bahwa Nabi Ibrahim bukannya ragu. Allah bertanya kepada Nabi Ibrahim agar kita dapat mengambil pelajaran dari dialog tersebut. Diantaranya dapat kita pahami bahwa keinginan melihat Allah atau keinginan untuk melihat bukti eksistensi Allah atau pun keinginan untuk melihat Kemahakuasaan Allah tidak selalu terbit dari hati yang ragu atau pun tidak percaya. Adakalanya keinginan seperti itu terbit dari hati yang yaqin.

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhannya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau. (QS. Al-Aroof: 143)

Nabi Musa sendiri sangat ingin melihat Allah. Apakah Nabi Musa orang yang tidak yaqin? Tidak mungkin. Lihat pembahasannya dalam Robbi Arinii Anzhur Ilayka

Bukankah Dibutuhkan Jarak untuk Bisa Melihat?

Sebenarnya tidak selalu dibutuhkan jarak untuk bisa melihat. Dalam hadits dikatakan bahwa ketika Miraj, Nabi telah berjumpa/melihat Allah. Padahal Nabi adalah yang paling dekat dengan Allah. Bahkan ahli kalam berkata bahwa siapa yang menyangka Muhammad itu jauh dari Tuhannya, maka ia telah benar-benar kufur.

Ketika Anda bermimpi, Anda dapat melihat benda yang jauh dan yang dekat. Padahal semua benda yang Anda anggap mempunyai jarak itu ternyata ada dalam kepala Anda sendiri. Semua benda itu ternyata tidak mempunyai jarak. Tetapi Anda dapat melihatnya. Ternyata tidak selalu dibutuhkan jarak untuk bisa melihat. Jarak, ruang dan waktu hanyalah persepsi. Saya senang sekali menonton semua film The Matrix. Karena di dalamnya terdapat banyak ilustrasi yang mempermudah saya untuk memahami haqiqat dari beberapa hal. Silahkan Anda membaca tulisan Kenyataan Dunia Nyata yang kami ambil dari karya Harun Yahya. Wallahu alam.

Posted in Aqidah | Edit | No Comments

Dzikir Berjamaah

Sunday, March 30th, 2008

Dzikir berjamaah merupakan salah satu perkara yang disukai dan dianjurkan Nabi. Orang yang mencintai Nabi tidak mungkin membenci perkara ini, kecuali mereka jahil dari perkara yang dicintai Nabi karena mengikut kepada ustadz-ustadz jahil.

Terdapat banyak hadits yang berkenaan dengan masalah ini, diantaranya ialah sabda Rasulullah SAW, Suatu kaum tidak berkumpul di rumah-rumah Allah (Masjid-Masjid) dan berdzikir kepada Allah Taala dengan (ikhlash) mengharapkan keridhoan-Nya, melainkan Allah mengampuni segala dosa mereka dan akan merubah semua kejahatan mereka menjadi kebaikan.

Sabdanya lagi, Suatu kaum tidak duduk bersama-sama berdzikir kepada Allahu Taala, melainkan para Malaikat mengelilingi mereka, sedang rahmat meliputi mereka, dan ketenangan turun atas mereka. Dan Allah menyebut nama mereka kepada siapa saja yang ada di sisi-Nya.

Dalam potongan hadits qudsi Allah berfirman, Jika mereka menyebut-Ku dalam suatu kumpulan, maka Aku menyebut mereka dalam kumpulan yang lebih baik. Kumpulan yang lebih baik di sisi Allah biasa ditafsirkan sebagai Malaikat. Dalam hadits lain dijelaskan bahwa setiap perbuatan kita akan dilaporkan kepada Nabi. Wallahu alam.

Sabda Rasulullah SAW lainnya: Apabila kamu melintasi taman-taman surga, maka hendaklah engkau singgah. Para shahabat bertanya, Apakah taman-taman surga itu? Beliau menjawab, Kumpulan-kumpulan orang yang berdzikir. Pada riwayat lain dikatakan Majelis-majelis dzikir.

Diriwayatkan dalam suatu hadits yang panjang dari Abu Hurairah yang diawali Sesungguhnya Allah s.w.t Yang Maha Memberkati lagi Maha Tinggi memiliki para Malaikat yang mempunyai kelebihan yang diberikan oleh Allah s.w.t. Para Malaikat selalu mengelilingi bumi. Para Malaikat sentiasa memerhati majlis-majlis zikir. Apabila mereka dapati ada satu majlis yang dipenuhi dengan zikir, mereka turut mengikuti majlis tersebut di mana mereka akan melingkunginya dengan sayap-sayap mereka sehinggalah memenuhi ruangan antara orang yang menghadiri majlis zikir tersebut dan langit dan diakhiri dengan, Allah berfirman: Aku sudah mengampuni mereka. Aku telah kurniakan kepada mereka apa yang mereka mohon dan Aku telah berikan ganjaran pahala kepada mereka sebagaimana yang mereka mohonkan. Para Malaikat berkata: Wahai tuhan kami, di antara mereka terdapat seorang hambaMu. Dia penuh dengan dosa, sebenarnya dia tidak berniat untuk menghadiri majlis tersebut, tetapi setelah dia melaluinya dia terasa ingin menyertainya lalu duduk bersama-sama orang ramai yang berada di majlis itu. Lalu Allah berfirman: Aku juga telah mengampuninya. Mereka adalah kaum yang tidak dicelakakan dengan majlis yang mereka adakan. (HQR. Bukhori dan Muslim)

Sebagian ahli thoriqoh lebih suka memilih berdzikir dengan mengangkat suara dan berkumpul beramai-ramai untuk tujuan berdzikir itu. Sebagian yang lain lebih mimilih berdzikir secara rahasia. Kedua cara itu diridhoi Allah. Allah merahmati mereka dan memberikan kita manfaat karena mereka. Bukankah kiamat, bencana terbesar bagi alam semesta, tertunda disebabkan orang yang menyebut Asma-Nya? Begitu juga bencana-bencana yang lebih kecil dari itu.

(Habib Abdullah Al-Haddad, Nashaihud Diniyah wa Washoyal Imaniyah)

Posted in Ibadah dan Hukum, Mari Raih Kesuksesan | Edit | No Comments

Video Maulid Di Monas

Saturday, March 29th, 2008

Pada hari Kamis, 20 Maret 2008, Majelis Rasulullah SAW mengadakan acara perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW di lapangan parkir Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Acara itu dihadiri juga oleh KH. Maruf Amin (selaku Ketua MUI), dan perwakilan dari beberapa partai yang sengaja diundang oleh Majelis Rasulullah SAW.

Seperti biasa, Habib Munzir membawakan taushiyah-taushiyah yang menyentuh hati. Namun kali ini taushiyah beliau lebih terasa di jiwa setiap hadhirin. Beliau mengisahkan kembali bagaimana sosok Rasulullah SAW sesungguhnya. Bagaimana budi pekerti Rasulullah SAW yang tidak pernah kenyang selama 3 hari berturut-turut. Artinya beliau SAW lebih sering lapar. Bukan karena beliau miskin. Jika beliau mau, beliau bisa menjadikan makanan satu piring cukup untuk mengenyangkan beliau dan keluarganya untuk selama-lamanya. Namun beliau ingin menjadi orang yang pertama kali merasakan lapar sebelum ummatnya merasakan lapar, dan menjadi orang yang terakhir kenyang setelah ummatnya kenyang.

Kisah demi kisah terus mengundang tangis dari jiwa-jiwa yang mencintai Muhammad Rasulullah SAW. Jiwa-jiwa yang dimabuk rindu itu terus melayang ke langit tertinggi. Cahaya-cahaya indah terpancar dari dada mereka hingga menembus ke Arasy.

Awan tipis berkumpul untuk menjawab kegundahan Habib Munzir ketika beliau berbisik dalam hati, Kasihan jamaah. Mereka duduk di bawah terik Matahari. Cuaca terik berubah menjadi sejuk dan berangin sepoy-sepoy, seakan alam menyambut para tamu Rasulullah SAW.

Ketika Habib Munzir mengisahkan akhir-akhir riwayat Rasulullah SAW, beberapa jamaah melihat awan-awan kecil berkumpul. Perlahan, mereka membentuk lafazh ALLAH dalam huruf Arab, lengkap dengan tanda bacanya (harokat).

Ketika Habib Munzir mengajak jamaah melafazhkan Asma Allah sebanyak 300 kali, awan itu telah terbentuk dengan jelasnya. Sebagian jamaah yang tidak mengetahui perihal awan itu terus berdzikir sambil menunduk dan tidak menghiraukan sekelilingnya. Mereka asyik dalam melafazhkan Asma Allah. Jamaah lainnya dan para pengunjung Monas yang melihat awan itu juga berdzikir sambil memandang tanda keridhoan Allah atas perkumpulan kami hari ini.

Selepas berdzikir, awan itu pun mulai terhapus. Namun tetap membekaskan kekaguman di hati jamaah dan pengunjung Monas yang menyaksikannya.

Download Video (RM)

Posted in Download | Edit | No Comments

Salafush Sholih Pun Bermaulid

Friday, March 28th, 2008

1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
Telah jelas dan kuat riwayat yang sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yang berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : hari ini hari ditenggelamkannya Firaun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : Kita lebih berhak atas Musa as dari kalian, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yang diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dengan pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alquran, maka nikmat apalagi yang melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG-ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA (QS Al Imran 164)

2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dengan sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300, dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yang telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lilaalamiin dan membawa Syariah untuk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman-teman dan saudara-saudara, menjamu dengan makanan-makanan dan yang serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. Bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : Husnulmaqshad fii amalilmaulid.

3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
Merupakan Bidah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dengan kelahiran Nabi saw.

4. Pendapat Imamul Qurra Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya Urif bittarif Maulidissyariif :
Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw) (shahih Bukhari hadits no.4813). maka apabila Abu Lahab Kafir yg Alquran turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yang gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh-sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.

5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :
Serupa dengan ucapan Imamul Qurra Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab.

6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah berkata, Tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat Islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar.

7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata: Ketahuilah salah satu bidah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw

8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah dengan karangan maulidnya yang terkenal al aruus juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya.

9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar.

10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yang terkenal dengan Ibn Dihyah alkalbi dengan karangan maulidnya yg bernama Attanwir fi maulid basyir an nadzir.

11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri dengan maulidnya urfu at tarif bi maulid assyarif

12. Imam al Hafidh Ibn Katsir yang karangan kitab maulidnya dikenal dengan nama : Maulid ibn Katsir

13. Imam Al Hafidh Al Iraqy dengan maulidnya maurid al hana fi maulid assana

14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy telah mengarang beberapa maulid : Jaami al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad arraiq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.

15. Imam assyakhawiy dengan maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi

16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi dengan maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah

17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yang terkenal dengan ibn diba dengan maulidnya addibai

18. Imam ibn hajar al haitsami dengan maulidnya itmam annimah alal alam bi maulid sayid waladu adam

19. Imam Ibrahim Baajuri mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dengan nama tuhfa al basyar ala maulid ibn hajar

20. Al Allamah Ali Al Qari dengan maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi

21. Al Allamah al Muhaddits Jafar bin Hasan Al barzanji dengan maulidnya yang terkenal maulid barzanji

23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani dengan maulid Al yaman wal isad bi maulid khair al ibad

Namun memang setiap kebaikan dan kebangkitan semangat muslimin mestilah ada yg menentangnya, dan hal yg lebih menyakitkan adalah justru penentangan itu bukan dari kalangan kuffar, tapi dari kalangan muslimin sendiri, mereka tak suka Nabi saw dicintai dan dimuliakan, padahal para sahabat radhiyallahuanhum sangat memuliakan Nabi saw, Setelah Rasul saw wafat maka Asma binti Abubakar shiddiq ra menjadikan baju beliau saw sebagai pengobatan, bila ada yg sakit maka ia mencelupkan baju Rasul saw itu di air lalu air itu diminumkan pada yg sakit (shahih Muslim hadits no.2069).

seorang sahabat meminta Rasul saw shalat dirumahnya agar kemudian ia akan menjadikan bekas tempat shalat beliau saw itu mushollah dirumahnya, maka Rasul saw datang kerumah orang itu dan bertanya : dimana tempat yg kau inginkan aku shalat?. Demikian para sahabat bertabarruk dengan bekas tempat shalatnya Rasul saw hingga dijadikan musholla (Shahih Bukhari hadits no.1130). Sayyidina Umar bin Khattab ra ketika ia telah dihadapan sakratulmaut, Yaitu sebuah serangan pedang yg merobek perutnya dengan luka yg sangat lebar, beliau tersungkur roboh dan mulai tersengal sengal beliau berkata kepada putranya (Abdullah bin Umar ra), Pergilah pada ummulmukminin, katakan padanya aku berkirim salam hormat padanya, dan kalau diperbolehkan aku ingin dimakamkan disebelah Makam Rasul saw dan Abubakar ra, maka ketika Ummulmukminin telah mengizinkannya maka berkatalah Umar ra : Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu (dimakamkan disamping makam Rasul saw (Shahih Bukhari hadits no.1328). Dihadapan Umar bin Khattab ra Kuburan Nabi saw mempunyai arti yg sangat Agung, hingga kuburannya pun ingin disebelah kuburan Nabi saw, bahkan ia berkata : Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu.

Dan masih banyak riwayat shahih lainnya tentang takdhim dan pengagungan sahabat pada Rasulullah saw, namun justru hal itu ditentang oleh kelompok baru di akhir zaman ini, mereka menganggap hal hal semacam itu adalah kultus, ini hanya sebab kedangkalan pemahaman syariah mereka, dan kebutaan atas ilmu kemurnian tauhid. Maka marilah kita sambut kedatangan Bulan Kebangkitan Cinta Muslimin pada Nabi saw ini dengan semangat juang untuk turut berperan serta dalam Panji Dakwah, jadikan medan ini benar benar sebagai ajang perjuangan kita untuk menerangi wilayah kita, masyarakat kita, masjid kita, musholla kita, rumah rumah kita, dengan cahaya Kebangkitan Sunnah, Cahaya Semangat Hijrah, kemuliaan kelahiran Nabi saw yg mengawali seluruh kemuliaan islam, dan wafatnya Nabi saw yg mengawali semangat pertama setelah wafatnya beliau saw.

Saudara saudarku, kelompok anti maulid semakin gencar berusaha menghalangi tegaknya panji dakwah, maka kalian jangan mundur dan berdiam diri, bela Nabimu saw, bela idolamu saw, tunjukkan akidah sucimu dan semangat juangmu, bukan hanya mereka yg memiliki semangat juang dan mengotori masji masjid ahlussunnah dengan pencacian dg memfitnah kita adalah kaum musyrik karena mengkultuskan Nabi,

Saudaraku bangkitlah, karena bila kau berdiam diri maka kau turut bertanggung jawab pula atas kesesatan mereka, padahal mereka saudara saudara kita, mereka teman kita, mereka keluarga kita, maka bangkitlah untuk memperbaiki keadaan mereka, bukan dengan pedang dan pertikaian, sungguh kekerasan hanya akan membuka fitnah lebih besar, namun dg semangat dan gigih untuk menegakkan kebenaran, mengobati fitnah yg merasuki muslimin muslimat..

Nah saudara saudaraku, para pembela Rasulullah saw.. jadikan 12 Rabiul awwal adalah sumpah setiamu pada Nabimu Muhammad saw, Sumpah Cintamu pada Rasulullah saw, dan Sumpah Pembelaanmu pada Habibullah Muhammad saw.

(majelisrasulullah.org)

Posted in Ibadah dan Hukum | Edit | No Comments

Dzikir yang Utama

Friday, March 28th, 2008

Para ulama mengatakan bahwa dzikir yang utama ialah manakala diucapkan oleh lisan dan hati secara serentak. Apabila diperbandingkan antara keduanya, maka berdzikir dengan hati tentu lebih utama ketimbang berdzikir dengan lisan semata-mata.

Sebagai penjelasan, bahwa makna dzikir dengan hati ialah segala dzikir yang diucapkan lisan hendaknya hadir pula di dalam hati, dan disebutkan pula oleh hati. Misalnya, jika orang yang berdzikir itu mengucapkan Laa ilaaha illallaah, maka hati pun menyebutkannya pula, dan bukan malah hatinya itu bercerita tentang senda-gurau duniawi. Orang yang melamun kesana-kesini itu tidak bisa dikatakan berdzikir dengan hati. Kecuali jika ia melamun tentang keagungan Allah dalam penciptaan langit dan bumi, tentang fungsi-fungsi benda alam yang menajubkan, tentang nimat Allah yang telah dirasakan, dan yang semisalnya. Juga termasuk dzikir adalah ketika seseorang mempelajari ilmu agama dan ilmu yang dapat menyelamatkan agama dalam hatinya. Maka menuntut ilmu agama seperti ilmu aqidah, fiqih, hadits, tafsir Quran, akhlaq dan sebagainya adalah termasuk dzikir yang utama. Wallahu alam.

Berkata Hujjatul Islam, Al-Imam Al-Ghazali, bahwa dzikir itu terbagi dalam empat kategori:
1. Dzikir dengan lisan saja.
2. Dzikir dengan lisan dan hati secara paksa.
3. Dzikir hati yang dibantu oleh lisan dengan nimat.
4. Menguasai dzikir di dalam hati dan memfokuskannya.

Kemudian Imam Ghazali menjelaskan bahwa yang pertama itu sedikit faedahnya dan lemah pengaruhnya, yakni jika lisan berdzikir sedangkan hatinya lalai. Memang, berdzikir dengan lisan sedangkan hatinya lalai, kurang faedahnya dan manfaatnya. Tetapi masih sedikit lebih baik ketimbang tidak berdzikir sama sekali. Sebagian orang bertanya kepada arif, Kami berdzikir kepada Allah, tetapi hati kami tidak hadhir. Jawabnya, Bersyukurlah kepada Allah yang telah menjadikan salah satu anggota tubuhmu berdzikir kepada-Nya. Maksudnya adalah lisannya.

Apabila berdzikir dengan lisan, hendaknya hati dihadhirkan pula untuk berdzikir bersamanya. Mungkin pada mulanya harus ditempuh dengan cara paksa. Apabila senantiasa dibiasakan, maka kelak hati akan merasakan kenimatan berdzikir itu, sehingga terpancarlah cahaya yang menyinarinya. Sesudah itu, hati akan hadhir dengan sendirinya tanpa dipaksa atau dibantu lagi. Terkadang hati bisa meningkat pada suatu keadaan tidak bersabar untuk berdzikir, dan tidak lagi lengah atau lalai daripadanya.

(Habib Abdullah Al-Haddad, Nashaihud Diniyah wa Washoyal Imaniyah)

Posted in Mari Raih Kesuksesan | Edit | No Comments

Setelah 9/11 Semua Berubah

Friday, March 28th, 2008

Nama Imam Syamsi (di sana biasa ditulis Shamsi), demikian ia biasa disapa, relatif dikenal bagi komunitas Muslim Amerika Serikat, juga bagi warga AS pada umumnya. Syamsi adalah imam Masjid Indonesia di ibu kota dunia, New York. Nama Masjid Indonesia mungkin tak berlaku formal, karena resminya bernama Islamic Center New York. M Syamsi Ali, nama lengkapnya, juga menduduki jabatan Direktur Jamaica Muslim Center dan Ketua Masyarakat Muslim Indonesia. Namun pekerjaan sehari-harinya adalah staf Humas di Perwakilan RI untuk PBB. Kepada wartawan Republika, Nasihin Masha, ia bertutur banyak tentang Muslim di negeri adidaya itu. Berikut ini petikannya.

Bagaimana perkembangan Islam pasca 9/11?
Saya menilai memang ada kecenderungan positif warga Amerika sesudah terjadi 9/11. Sebelum 9/11 mereka acuh tak acuh terhadap agama, jangankan terhadap Islam, terhadap agama kelahiran mereka saja mereka acuhkan. Gereja-gereja kosong, agama tidak lebih perayaan-perayaan sosial semata seperti Natal, dan lain-lain. Sebaliknya, anak-anak muda mereka semakin anti agama, yang dianggap kuno dan menjadi faktor keterbelakangan dan kebodohan.

Sebelum 9/11, Islam juga tidak terlalu menjadi sorotan. Mayoritas masyarakat tidak tahu apa atau belum pernah mendengar kata Islam itu sendiri. Media-media massa tidak terlalu banyak menyebut Islam, kecuali jika ada hal-hal sensitif yang terjadi di belahan dunia lainnya.

Setelah 9/11, semua ini berubah. Keinginan untuk tahu Islam menjadi sangat menonjol dan bahkan referensi Islam menjadi jualan paling laris di seantero Amerika Utara. Berbagai kalangan pun berminat untuk mendengarkan secara langsung apa itu Islam, dari gereja-gereja, sinagog, maupun perkantoran-perkantoran swasta bahkan pemerintahan. Maka dengan sendirinya para Imam memiliki akses lebih luas untuk memperkenalkan Islam kepada publik Amerika.

Namun, di satu sisi juga tidak disangkal, entah itu memang itulah nature dari kejadian 9/11, atau memang sebagai refleksi langsung dari tragedi tersebut, di sana sini kita lihat berbagai upaya untuk semakin mempersempit pergerakan umat Islam. Berbagai aturan atau regulasi diloloskan, yang memang secara langsung menggerogoti pergerakan dakwah Islam di Amerika. Juga mereka yang memang khawatir akan bangkitnya Islam di Amerika, tentu semakin takut dan melakukan semua cara untuk semakin menjelek-jelekkan Islam. Yang paling menonjol dari yang terakhir ini adalah kelompok ekstrem Kristen, evangelis.

Betulkah ada banyak penyerangan terhadap Islam?
Memang ada kasus-kasus yang terjadi seperti yang telah dilansir oleh berbagai media massa. Tapi saya pribadi melihatnya sebagai reaksi alami terhadap propaganda yang mengatakan bahwa Muslimlah yang melakukan penyerangan terhadap WTC. Namun satu hal yang positif terhadap ini adalah adanya kemungkinan bagi umat Islam untuk melakukan pembelaan. Artinya jika memang dianggap penyerangan karena agama maka ini namanya kriminal dan yang bersangkutan berhak melaporkan ke pihak yang berwewenang untuk diproses secara hukum.

Betulkah sebelum 9/11 perkembangan Islam sedang pesat-pesatnya terutama di kalangan African-American?
Memang sebelum 11 September Islam berkembang pesat di kalangan Afro Americans. Hal ini dikarenakan bahwa Islam itu dianggap pemerdeka dari berbagai belenggu, termasuk belenggu ras atau warna kulit. Warga Amerika kulit hitam selama ini secara informal dianggap penduduk kelas dua. Dengan Islam mereka merasa betul-betul mendapatkan kemerdekaan yang hakiki itu. Jadi Islam dijadikan sebagai tool of social change.

Betulkah masih banyak prejudice dan stereotip terhadap Islam, baik di media massa maupun dalam kehidupan sehari-hari?
Betul masih ada kasus-kasus yang terjadi. Tapi sejujurnya kecenderungan ke arah yang lebih baik itu semakin meningkat. Masyarakat AS semakin terbuka untuk menerima tetangga Muslim mereka. Bahkan ada keinginan untuk lebih tahu ajaran agama Islam.

Media massa juga demikian. Hampir semua media saat ini cenderung jujur dalam pemberitaan mengenai Islam, kecuali beberapa seperti New York Post. Fox News misalnya, dalam dua minggu terakhir ini telah mewawancarai saya dua kali. Pertama mengenai radikalisme dalam Islam dan kedua mengenai pernyataan Paus baru-baru ini. Dan alhamdulillah, semua kita lakukan secara baik dan diterima secara positif. Bagi saya pribadi, ini kesempatan baik untuk akses ke mainstream media di AS.

Bagaimana ceritanya sampai Andak bisa terpilih memimpin doa di kongres?
Sebenarnya yang benar saya tidak memimpin doa di Kongres, tapi di acara perhelatan akbar doa bersama untuk Amerika setelah kejadian 11 September. Acara itu dihadiri oleh pejabat-pejabat tinggi, termasuk mantan presiden Clinton dan isterinya yang senator, Hillary. Juga Gubernur New York, George Pataki dan Walikota New York, Guliani, serta beberapa senator dan anggota kongress dari kota New York. Ceritanya karena sebelumnya memang saya sudah seringkali diundang untuk rapat-rapat di kantor walikota dalam komite yang disebut Committee on Religious Reconciliation (Komite Rekonsiliasi antar agama). Kebetulan salah seorang pencetus badan tersebut adalah saya dan didukung oleh tokoh-tokoh agama di kota New York.

Saya ke Gedung Putih karena salah satu tokoh agama (satu-satunya Muslim) yang duduk dalam komite Agama untuk Pembangunan berkesinambungan dan Perdamaian. Tokoh-tokoh agama yang tergabung dalam komite ini adalah tokoh-tokoh agama senior dari semua agama. Ketika itu kita mengusulkan agar dilakukan pertemuan dengan Presiden Bush dan ternyata mendapat respon positif dengan diterimanya kita di Gedung Putih.

Kalau terpilihinya saya oleh Majalah New York sebagai salah satu dari 7 tokoh agama paling berpengaruh di kota New York, saya sendiri tidak tahu. Saya hanya diberitahu setelah majalah itu terbit. Tapi menurut yang saya dengar, mereka ini telah menyelidiki berbagai kegiatan dan pikiran-pikiran saya selama ini. Juga melakukan wawancara dengan berbagai pihak untuk menentukan siapa yang paling berpengaruh itu.

Adakah koordinasi antar lembaga dakwah di Amerika?
Secara formal memang ada. Untuk kontesk New York misalnya ada yang disebut Majelis As-Shura (Imams Council). Tapi secara praktik sangat susah mengefektifkan majelis ini karena keragaman komunitas Muslim. Ada yang karena latar belakang etnis, mazhab, dan juga tentunya adalah perbedaan metode dakwah yang dilakukan. Jadi memang masih berat untuk mengefektifkan koordinasi di antara komunitas Muslim di AS. (www.republika.co.id)

Posted in Chicken Soup for Soul | Edit | 1 Comment

Takhalli, Tahalli, Tajalli

Thursday, March 27th, 2008

Manusia dilengkapi oleh Allah dua hal pokok, yaitu jasmani dan rohani. Dua hal ini memiliki keperluan masing-masing. Jasmani membutuhkan makan, minum, pelampiasan syahwat, keindahan, pakaian, perhiasan-perhiasan dan kemasyhuran. Rohani, pada sisi lain, membutuhkan kedamaian, ketenteraman, kasih-sayang dan cinta.

Para sufi menegaskan bahwa hakekat sesungguhnya manusia adalah rohaninya. Ia adalah muara segala kebajikan. Kebahagiaan badani sangat tergantung pada kebahagiaan rohani. Sedang, kebahagiaan rohani tidak terikat pada wujud luar jasmani manusia. Sebagai inti hidup, rohani harus ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi. Semakin tinggi rohani diletakkan, kedudukan manusia akan semakin agung. Jika rohani berada pada tempat rendah, hina pulalah hidup manusia. Fitrah rohani adalah kemuliaan, jasmani pada kerendahan. Badan yang tidak memiliki rohani tinggi, akan selalu menuntut pemenuhan kebutuhan-kebutuhan rendah hewani. Rohani hendaknya dibebaskan dari ikatan keinginan hewani, yaitu kecintaan pada pemenuhan syahwat dan keduniaan. Hati manusia yang terpenuhi dengan cinta pada dunia, akan melahirkan kegelisahan dan kebimbangan yang tidak berujung. Hati adalah cerminan ruh. Kebutuhan ruh akan cinta bukan untuk dipenuhi dengan kesibukan pada dunia. Ia harus bersih.

Dalam rangkaian metode pembersihan hati, para sufi menetapkan dengan tiga tahap : Takhalli, Tahalli, dan Tajalli. Takhalli, sebagai tahap pertama dalam mengurus hati, adalah membersihkan hati dari keterikatan pada dunia. Hati, sebagai langkah pertama, harus dikosongkan. Ia disyaratkan terbebas dari kecintaan terhadap dunia, anak, istri, harta dan segala keinginan duniawi.

Dunia dan isinya, oleh para sufi, dipandang rendah. Ia bukan hakekat tujuan manusia. Manakala kita meninggalkan dunia ini, harta akan sirna dan lenyap. Hati yang sibuk pada dunia, saat ditinggalkannya, akan dihinggapi kesedihan, kekecewaan, kepedihan dan penderitaan. Untuk melepaskan diri dari segala bentuk kesedihan, lanjut para saleh sufi, seorang manusia harus terlebih dulu melepaskan hatinya dari kecintaan pada dunia.

Tahalli, sebagai tahap kedua berikutnya, adalah upaya pengisian hati yang telah dikosongkan dengan isi yang lain, yaitu Allah (swt). Pada tahap ini, hati harus selalu disibukkan dengan dzikir dan mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, melepas selain-Nya, akan mendatangkan kedamaian. Tidak ada yang ditakutkan selain lepasnya Allah dari dalam hatinya. Hilangnya dunia, bagi hati yang telah tahalli, tidak akan mengecewakan. Waktunya sibuk hanya untuk Allah, bersenandung dalam dzikir. Pada saat tahalli, lantaran kesibukan dengan mengingat dan berdzikir kepada Allah dalam hatinya, anggota tubuh lainnya tergerak dengan sendirinya ikut bersenandung dzikir. Lidahnya basah dengan lafadz kebesaran Allah yang tidak henti-hentinya didengungkan setiap saat. Tangannya berdzikir untuk kebesaran Tuhannya dalam berbuat. Begitu pula, mata, kaki, dan anggota tubuh yang lain. Pada tahap ini, hati akan merasai ketenangan. Kegelisahannya bukan lagi pada dunia yang menipu. Kesedihannya bukan pada anak dan istri yang tidak akan menyertai kita saat maut menjemput. Kepedihannya bukan pada syahwat badani yang seringkali memperosokkan pada kebinatangan. Tapi hanya kepada Allah. Hatinya sedih jika tidak mengingat Allah dalam setiap detik.

Setelah tahap pengosongan dan pengisian, sebagai tahap ketiga adalah Tajalli. Yaitu, tahapan dimana kebahagian sejati telah datang. Ia lenyap dalam wilayah Jalla Jalaluh, Allah subhanahu wataala. Ia lebur bersama Allah dalam kenikmatan yang tidak bisa dilukiskan. Ia bahagia dalam keridhoan-Nya. Pada tahap ini, para sufi menyebutnya sebagai marifah, orang yang sempurna sebagai manusia luhur.

Syekh Abdul Qadir Jaelani menyebutnya sebagai insan kamil, manusia sempurna. Ia bukan lagi hewan, tapi seorang malaikat yang berbadan manusia. Rohaninya telah mencapai ketinggian kebahagiaan. Tradisi sufi menyebut orang yang telah masuk pada tahap ketiga ini sebagai waliyullah, kekasih Allah. Orang-orang yang telah memasuki tahapan Tajalli ini, ia telah mencapai derajat tertinggi kerohanian manusia. Derajat ini pernah dilalui oleh Hasan Basri, Imam Junaidi al-Baghdadi, Sirri Singkiti, Imam Ghazali, Rabiah al-Adawiyyah, Maruf al-Karkhi, Imam Qusyairi, Ibrahim Ad-ham, Abu Nasr Sarraj, Abu Bakar Kalabadhi, Abu Talib Makki, Sayyid Ali Hujweri, Syekh Abdul Qadir Jaelani, dan lain sebagainya. Tahap inilah hakekat hidup dapat ditemui, yaitu kebahagiaan sejati.

Wallahu alam

Rizqon Khamami

Posted in Mari Raih Kesuksesan | Edit | No Comments

Robbi Arinii Anzhur Ilayka

Monday, March 24th, 2008

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhannya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau. Tuhan berfirman: Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhannya menampakkan diri (tajalli) kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman. (QS. Al-Aroof: 143)

Tidak akan melihat Aku, merupakan pernyataan Allah, bahwa bagaimana pun juga, mata-kepala yang berbentuk bundar dan terletak pada rongga mata dengan daya lihatnya, tidak akan bisa melihat Tuhan. Tetapi tidak berarti menutup kemungkinan untuk melihat Allah dengan mata-bathin. Bila mata-hati itu dianugerahi oleh Allah berupa nur-Nya (nurul bashiroh), dan terdapat pancaran dan nyala pandangan bathin (syia-ul bashiroh) yang kemudian menguasai pandangan mata-kepala, maka pada kondisi itulah dimungkinkan terjadinya melihat Allah.

Ibnu Taimiyah berkata, Banyak orang-orang Sufi berkata: Aku melihat Allah. Diceritakan orang tentang ucapan Jafar bin Muhammad Ash-Shadiq ketika beliau ditanya: Apakah Anda melihat Allah? Jafar menjawab: Aku melihat Allah kemudian aku menyembah-Nya. Kemudian ditanyakan lagi: Bagaimana Anda melihat-Nya? Beliau menjawab: Tidak mungkin mata-kepala dapat melihat-Nya dengan keterbatasannya. Tetapi mata hati yang Haqqul Yaqin dapat melihat Allah.

Imam Al-Qurthuby berkata dalam Al-Jamiul-Ahkamul-Quran, Melihat Allah SWT di dunia (dengan mata-hati) adalah dapat diterima aqal. Kalau sekiranya tidak bisa, tentulah permintaan Musa as untuk bisa melihat Allah adalah hal yang mustahil. Tidak mungkin seorang Nabi tidak mengerti apa yang jaiz dan apa yang mustahil pada Allah. Bahkan jika Nabi Musa tidak meminta, hal ini (melihat Allah) adalah bisa terjadi dan bukan mustahil.

Tajalli menurut pendapat Shufi adalah Allah menampakkan Diri-Nya sendiri tanpa adanya yang selain dari-Nya, dengan segala Shifat Kesempurnaan-Nya. Tajalli Allah pada gunung menunjukkan bahwa Allah bisa saja (jaiz) bertajalli (menampakkan Diri-Nya) kepada benda apa pun juga, lebih-lebih kepada para Rasul, para Nabi dan para waliyullah atau kepada siapa pun yang Dia kehendaki.

Ketika makhluq mengalami tajalli Allah pada dirinya, maka ia tidak lagi melihat dan tidak lagi mengetahui eksistensi/wujud apa pun, kecuali Allah. Saat itu ia benar-benar menyaksikan bahwa tidak ada yang wujud kecuali Allah. Bahkan dia tidak menyadari, tidak merasakan, tidak mengetahui eksistensi dirinya sendiri. Dirinya telah sirna (fana), yang benar-benar wujud saat itu hanyalah Allah. Segala sesuatu telah sirna dan tetap kekal (baqa) Wujud Allah. Tidak ada yang maujud, kecuali Allah. Maka wajarlah jika dari orang yang sedang dalam kondisi seperti ini keluar kata-kata seperti Anal-Haqq (Akulah Al-Haqq), atau Laa ilaaha illaa Ana (Tiada ilah kecuali Aku). Ingat, kalimat Tauhid juga bermakna tiada yang wujud dengan sebenar-benarnya wujud, kecuali Allah.

Namun demikian, tajalli dan pembahasannya tidak bisa menggambarkan kondisi tersebut hingga 100%. Hal ini merupakan masalah pengalaman, bukan sesuatu yang bisa dipelajari. Menjelaskan tajalli itu seperti menjelaskan rasa manis. Ia hanya bisa difahami dengan benar oleh mereka yang pernah mengalaminya. Tajalli memang bukan untuk difahami, tetapi dialami. Cara untuk membersihkan jiwa itulah yang perlu kita pelajari, fahami, dan kita amalkan. Dengan mengamalkan apa yang telah kita pelajari dan kita fahami, maka Allah akan mengajarkan kita sesuatu yang belum kita pelajari atau belum kita fahami hingga kita memahami hal tersebut. Amalkan apa yang telah Anda ketahui, maka Allah akan mengajarkan Anda apa yang belum Anda ketahui.

Wallahu alam.

Posted in Aqidah, Mari Raih Kesuksesan | Edit | No Comments

Dzul Qornain dan Air Kehidupan

Thursday, March 20th, 2008

Konon, sebuah kisah mengenai Iskandar Dzul Qornain, seorang Raja Diraja berhasrat mencari Maaul-Hayah (air kehidupan). Kabar bin kabar menyebutkan bahwa siapa yang dapat menimati air kehidupan itu, dia akan dikaruniai Allah masa hidup yang panjang sampai Hari Kiamat.

Beliau bermufakat dengan Perdana Menterinya, Balya ibnu Mulkan (Nabi Khaydir sebelum diangkat menjadi Nabi) agar bersama-sama melakukan perjalanan untuk menemukan sumur air kehidupan itu. Segala sesuatu dipersiapkan, perjalanan dilakukan berdua-duaan tanpa diikuti oleh siapa pun. Balya ibnu Mulkan menjadi penunjuk jalan. Sebelum perjalanan itu dilakukan, Perdana Menteri berpesan kepada Rajanya, Tuanku, apa pun yang kita temui dalam perjalanan ini janganlah dihiraukan karena hal itu akan menghambat perjalanan kita menuju apa yang kita cari. Perjalanan ternyata cukup panjang dan memakan waktu cukup lama. Bermacam halangan dan rintangan yang dilewati, tidaklah mereka hiraukan. Dari kejauhan, tampaklah jalan lurus gemerlapan, penuh cahaya yang amat indah. Serasa hilang segala penat dan letih setelah menyaksikan keindahan jalanan itu, namun tujuan belum juga kelihatan.

Ternyata jalanan itu dihiasi permata-permata indah sejauh mata memandang. Iskandar Dzulqornain serta merta mengambil permata-permata itu dengan penuh nafsu. Beliau masukkan ke dalam karung yang beliau panggul sendiri. Balya ibnu Mulkan berkata, Tuanku, perjalanan kita masih jauh. Lebih baik tinggalkan saja semua itu. Iskandar Dzulqornain menjawab, Tak apalah, permata-permata ini tidak seberapa beratnya.

Perjalanan diteruskan, terlihat Raja Iskandar Dzul Qornain sudah agak letih. Tambah jauh perjalanan, tambah pula rasa beratnya bawaan. Sering sudah perjalanan terhenti untuk menghilangkan penat. Sedikit demi sedikit, bawaan berupa permata itu terpaksa dilemparkan. Namun apa yang terjadi, belum juga sampai ke tujuan, beliau sudah tidak mampu lagi meneruskan perjalanan itu. Raja Iskandar Dzul Qornain terpaksa kembali ke kerajaan, sedang Balya ibnu Mulkan meneruskan perjalanan beliau untuk menemukan maaul hayah. Beberapa lama kemudian setelah peristiwa itu, Raja Iskandar Dzul Qornain meninggal dunia. Sebelum wafatnya, beliau pernah berpesan, Bila sampai akhir hayatku, tolong keluarkan kedua tanganku dari peti mati. Agar rakyatku mengetahui bahwa si Iskandar yang mempunyai kerajaan di Timur dan di Barat, yang memiliki kekayaan berlimpah ruah, ternyata bila sampai ajalnya, hanya dengan tangan kosong melompong, tak ada satu pun yang dapat aku bawa.

Demikianlah sekelumit kisah yang mungkin sekedar tamtsil dan ibarat bahwa perjalanan menuju Hidhratul Qudsiyah agar dapat menimati air cinta kasih Allah, haruslah memiliki tekad dan cita-cita yang teguh (istiqomah). Jangan sampai terganggu oleh keadaan yang dilalui.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari kisah ini adalah, permata-permata dunia yang berupa hiburan dan senda gurau adalah halangan yang paling nyata dalam menuju Tuhan, bila penggunaan dan pemanfaatannya melebihi batas dari ketentuan-ketentuan Allah SWT. Selain itu, semua hiasan dan permata dunia itu, pada waktu yang ditentukan akan ditinggalkan semuanya.

Posted in Mari Raih Kesuksesan | Edit | No Comments

Awan Pun Berdzikir

Thursday, March 20th, 2008

Pada hari Kamis, 20 Maret 2008, Majelis Rasulullah SAW mengadakan acara perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW di lapangan parkir Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Acara itu dihadiri juga oleh KH. Maruf Amin (selaku Ketua MUI), dan perwakilan dari beberapa partai yang sengaja diundang oleh Majelis Rasulullah SAW.

Seperti biasa, Habib Munzir membawakan taushiyah-taushiyah yang menyentuh hati. Namun kali ini taushiyah beliau lebih terasa di jiwa setiap hadhirin. Beliau mengisahkan kembali bagaimana sosok Rasulullah SAW sesungguhnya. Bagaimana budi pekerti Rasulullah SAW yang tidak pernah kenyang selama 3 hari berturut-turut. Artinya beliau SAW lebih sering lapar. Bukan karena beliau miskin. Jika beliau mau, beliau bisa menjadikan makanan satu piring cukup untuk mengenyangkan beliau dan keluarganya untuk selama-lamanya. Namun beliau ingin menjadi orang yang pertama kali merasakan lapar sebelum ummatnya merasakan lapar, dan menjadi orang yang terakhir kenyang setelah ummatnya kenyang.

Kisah demi kisah terus mengundang tangis dari jiwa-jiwa yang mencintai Muhammad Rasulullah SAW. Jiwa-jiwa yang dimabuk rindu itu terus melayang ke langit tertinggi. Cahaya-cahaya indah terpancar dari dada mereka hingga menembus ke Arasy.

Awan tipis berkumpul untuk menjawab kegundahan Habib Munzir ketika beliau berbisik dalam hati, Kasihan jamaah. Mereka duduk di bawah terik Matahari. Cuaca terik berubah menjadi sejuk dan berangin sepoy-sepoy, seakan alam menyambut para tamu Rasulullah SAW.

Ketika Habib Munzir mengisahkan akhir-akhir riwayat Rasulullah SAW, beberapa jamaah melihat awan-awan kecil berkumpul. Perlahan, mereka membentuk lafazh ALLAH dalam huruf Arab, lengkap dengan tanda bacanya (harokat).

Ketika Habib Munzir mengajak jamaah melafazhkan Asma Allah sebanyak 300 kali, awan itu telah terbentuk dengan jelasnya. Sebagian jamaah yang tidak mengetahui perihal awan itu terus berdzikir sambil menunduk dan tidak menghiraukan sekelilingnya. Mereka asyik dalam melafazhkan Asma Allah. Jamaah lainnya dan para pengunjung Monas yang melihat awan itu juga berdzikir sambil memandang tanda keridhoan Allah atas perkumpulan kami hari ini.

Selepas berdzikir, awan itu pun mulai terhapus. Namun tetap membekaskan kekaguman di hati jamaah dan pengunjung Monas yang menyaksikannya.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post